Nilai Dasar Pergerakan I PMII
A. Sebelum Kita Mulai: Kenapa Harus Belajar NDP?
Sebelum bicara aksi, bicara advokasi, bicara siapa jadi ketua di organisasi mari kita duduk sebentar dan bertanya pada diri sendiri, sebenarnya kita ini bergerak atas dasar apa?.
Pertanyaan itu selalu menjadi pintu masuk setiap kali membahas Nilai Dasar Pergerakan, atau yang biasa disingkat NDP.
Banyak kader baru mengira NDP hanya hafalan yang wajib dikuasai untuk lulus MAPABA, lalu dilupakan begitu saja setelah dilantik. Padahal NDP adalah jantung PMII.
NDP bukan hanya teori di atas kertas, melainkan cara pandang yang akan menuntun bagaimana seorang kader berpikir, bersikap serta bertindak, baik di ruang diskusi, di jalanan maupun di kehidupan sehari-hari sebagai mahasiswa.
Baca juga: Sejarah Dan Doktrin Islam Ahlussunnah Wal Jama'ah
Materi ini disusun agar Nilai Dasar Pergerakan I, yang selama ini terasa berat dan penuh istilah filsafat, bisa dipahami dengan bahasa yang sederhana, disertai contoh yang dekat dengan keseharian anggota. Anggap saja ini obrolan santai di sekretariat, bukan kuliah yang kaku.
B. Apa Sebenarnya NDP Itu?
Nilai Dasar Pergerakan adalah rumusan nilai-nilai ideologis yang menjadi landasan berpikir dan bertindak seluruh kader PMII.
Jika PMII punya AD/ART dan segala pedoman organisasi sebagai aturan main, maka PMII juga punya NDP sebagai ruh atau spirit yang menghidupkan aturan main itu.
AD/ART mengatur apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan secara organisatoris, sedangkan NDP menjawab pertanyaan yang jauh lebih mendasar, untuk apa kita ada dari mana kita berangkat, dan hendak ke mana kita menuju.
Ingat baik-baik, NDP bukan mata kuliah tambahan yang harus dihafal lalu dilupakan. NDP adalah kacamata.
Begitu kacamata itu terpasang, cara kita melihat kuliah, organisasi, kampus bahkan negara akan berubah.
NDP dalam tradisi PMII biasanya dijelaskan secara bertahap, mulai dari NDP I yang membahas fondasi paling dasar yaitu Tauhid atau keyakinan tentang keesaan Tuhan, hingga tahap-tahap berikutnya yang menurunkan nilai tauhid tersebut ke dalam relasi manusia dengan sesama dan dengan alam semesta.
Materi kita hari ini berfokus pada NDP I sebagai pintu masuk paling awal dan paling penting.
Bagian 1: Tauhid, Titik Berangkat Segala Gerak
Mengapa PMII memulai NDP dari Tauhid, bukan dari isu sosial, bukan dari teori pergerakan mahasiswa, bukan pula dari sejarah organisasi?.
Karena seorang kader PMII meyakini bahwa segala sesuatu di alam semesta ini berasal dari satu sumber yang sama, yaitu Allah Swt.
Keyakinan inilah yang disebut Tauhid dan keyakinan inilah yang menjadi pondasi pertama sebelum kader bicara apa pun yang lain.
Tauhid secara bahasa berarti mengesakan. Secara istilah, Tauhid adalah keyakinan bahwa Allah adalah satu-satunya Dzat yang berhak disembah, satu-satunya sumber hukum tertinggi, dan satu-satunya tempat kembali segala sesuatu.
Ketika seorang kader mengucapkan kalimat syahadat, sebenarnya ia sedang menegaskan satu sikap hidup yang sangat radikal tidak ada satu pun kekuatan di dunia ini, baik itu jabatan, uang, gelar akademik ataupun kekuasaan politik, yang layak dijadikan tuhan-tuhan kecil dalam hidupnya.
Tiga Dimensi Penghayatan Tauhid
Dalam tradisi NDP PMII, penghayatan Tauhid tidak berhenti pada pengakuan lisan semata. Namun harus menyentuh tiga dimensi sekaligus agar benar-benar hidup dalam diri seorang kader.
Dimensi Keyakinan (I’tiqad). Ini adalah pengakuan hati bahwa Allah Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan seluruh alam semesta tunduk pada kehendak-Nya. Dimensi ini adalah fondasi yang paling dalam, tempat semua nilai lain akan berpijak.
Dimensi Ucapan (Iqrar). Keyakinan itu diikrarkan melalui kalimat syahadat, sebuah pernyataan sikap yang mengikat seseorang pada konsekuensi tertentu, sebagaimana seorang mahasiswa yang menandatangani kontrak belajar, ia terikat pada apa yang telah ia sepakati.
Dimensi Perbuatan (‘Amal). Inilah dimensi yang paling sering luput dari perhatian kader muda. Tauhid yang benar harus terwujud dalam perilaku sehari-hari seperti jujur saat ujian, adil saat menjadi panitia, amanah saat memegang uang organisasi serta berani saat menyuarakan kebenaran meski beresiko.
Tiga dimensi ini saling mengunci. Seorang yang yakin tetapi tidak berucap, imannya masih tersembunyi.
Seorang yang berucap tetapi tidak yakin, ucapannya hanya kepalsuan. Seorang yang yakin dan berucap tetapi tidak beramal, Tauhidnya berhenti sebagai wacana. NDP I mengajak setiap kader untuk menyatukan ketiganya sekaligus.
Katakanlah: Dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu.
- Q.S. Al-Ikhlas: 1–2, sering dikutip sebagai rujukan utama pembahasan Tauhid dalam NDP PMII
Bagian 2: Ketika Tauhid Turun ke Bumi
Bagian tersulit dalam memahami NDP bukanlah menghafal definisi Tauhid, melainkan menerjemahkannya ke dalam sikap hidup sehari-hari.
Banyak kader hafal betul teori Tauhid, tetapi lupa bahwa Tauhid punya konsekuensi sosial yang sangat konkret. NDP I mengenalkan sebuah prinsip penting yang disebut Tauhid sebagai pembebas, atau dalam bahasa yang lebih akrab. Tauhid adalah sebagai sumber keberanian.
Tauhid Membebaskan dari Penghambaan kepada Sesama Manusia
Jika hanya Allah yang berhak disembah dan ditakuti secara mutlak, maka seorang kader PMII semestinya tidak lagi gentar berhadapan dengan kekuasaan yang zalim, tidak silau pada jabatan, dan tidak takut kehilangan popularitas hanya karena berbicara jujur.
Inilah makna Tauhid sebagai pembebas, ia membebaskan manusia dari rasa takut yang berlebihan kepada sesama manusia, sekaligus membebaskan dari sikap tunduk buta kepada tradisi, sistem atau otoritas yang bertentangan dengan nilai kebenaran.
Seorang kader yang bertauhid tidak akan menjilat atasan organisasi demi jabatan, karena ia tahu jabatan bukan sumber kemuliaan sejati.
Seorang kader yang bertauhid berani mengkritik kebijakan kampus yang merugikan mahasiswa, karena rasa takutnya hanya tertuju kepada Allah, bukan kepada rektorat.
Seorang kader yang bertauhid menolak korupsi dana organisasi sekecil apa pun, karena ia yakin setiap perbuatan akan dipertanggungjawabkan, bukan hanya kepada bendahara, tetapi kepada Allah.
Tauhid Menumbuhkan Rasa Tanggung Jawab
Di sisi lain, Tauhid juga menanamkan kesadaran bahwa manusia diberi amanah sebagai khalifah di muka bumi.
Artinya, seorang mukmin bukan hanya pasif menyembah, melainkan aktif menata kehidupan agar selaras dengan kehendak Sang Pencipta, yakni kehidupan yang adil, damai serta bermartabat bagi seluruh manusia, bukan hanya golongan tertentu.
Refleksi Sejenak
Coba tanyakan pada diri sendiri selama ini, ketakutan terbesar kita saat mengambil sikap lebih sering karena takut kepada Allah, atau justru takut dicap aneh oleh teman, takut dimarahi senior, atau takut kehilangan posisi?.
NDP I mengajak kita jujur menjawab pertanyaan ini, karena di situlah letak ukuran sejauh mana Tauhid benar-benar hidup dalam diri kita.
Bagian 3: Dari NDP I Menuju Tiga Relasi Kehidupan
NDP I sengaja diposisikan sebagai pijakan paling awal karena seluruh nilai lanjutan dalam tubuh PMII sesungguhnya adalah kepanjangan tangan dari Tauhid.
Setelah kader memahami dan meyakini keesaan Allah, nilai tersebut akan diturunkan secara bertahap ke dalam tiga relasi besar kehidupan, yang biasa disebut dengan istilah Hablum minallah, Hablum minannas, dan Hablum minal alam.
Relasi Makna dan Wujud dalam Keseharian Kader:
Hablum minallah
Hubungan vertikal manusia dengan Allah, diwujudkan lewat ibadah, doa serta kesadaran bahwa segala aktivitas organisasi tetap berada dalam bingkai pertanggungjawaban kepada Tuhan.
Hablum minannas
Hubungan horizontal antar sesama manusia, diwujudkan lewat sikap adil, toleran, solidaritas kepada sesama mahasiswa serta keberpihakan kepada masyarakat yang tertindas.
Hablum minal alam
Hubungan manusia dengan alam semesta, diwujudkan lewat sikap menjaga lingkungan, tidak eksploitatif, dan memandang alam sebagai amanah yang harus dirawat, tidak hanya objek eksploitasi.
Ketiga relasi ini tidak berdiri sendiri-sendiri. Ketiganya adalah satu paket yang lahir dari satu akar yang sama, yaitu Tauhid.
Seorang kader yang rajin beribadah tetapi bersikap sewenang-wenang kepada temannya, sesungguhnya belum menyelesaikan pekerjaan rumah Tauhidnya.
Begitu pula kader yang aktif membela rakyat tetapi lalai menjaga hubungannya dengan Allah, gerakannya berpotensi kehilangan arah dan mudah goyah oleh godaan duniawi.
Bagian 4: Empat Nilai Turunan yang Wajib Dipahami
Untuk memperdala5m pemahaman Tauhid, NDP I biasanya juga mengenalkan empat istilah kunci yang saling berkaitan, yaitu Iman, Islam, Ihsan serta Taqwa.
Memahami keempatnya akan membuat kader tidak hanya paham konsep Tauhid secara teoretis, tetapi juga tahu bagaimana konsep itu bekerja secara berjenjang dalam kehidupan.
Iman, yakni keyakinan dalam hati terhadap keesaan Allah beserta seluruh rukun iman, sebagai fondasi batin yang tidak terlihat namun menggerakkan segalanya.
Islam, yakni penyerahan diri secara total melalui ketaatan pada syariat, tampak dalam ibadah dan perilaku sehari-hari yang bisa diamati orang lain.
Ihsan, yakni tingkat kesadaran tertinggi, di mana seseorang beribadah dan bertindak seolah-olah senantiasa melihat Allah, sehingga kualitas kerja dan integritasnya tidak bergantung pada ada tidaknya pengawasan orang lain.
Taqwa, yakni buah dari perpaduan Iman, Islam, dan Ihsan tampak dari kehati-hatian seseorang dalam menjalani hidup agar senantiasa berada di jalan yang benar, baik ketika dilihat orang maupun ketika sendirian.
Keempat nilai ini penting dipahami bersama-sama agar kader tidak terjebak pada pemahaman yang timpang.
Ada kader yang rajin ibadah ritual namun abai pada integritas kerja organisasi. Ada pula kader yang aktif secara sosial namun kering secara spiritual.
NDP I mengajak kader menyeimbangkan keduanya, sebab keduanya sama-sama buah dari satu pohon Tauhid yang sama.
Bagian 5: Lalu, Apa Gunanya Bagi Mahasiswa Hari Ini?
Sampai di sini, mungkin muncul pertanyaan yang sangat wajar, apa hubungannya konsep Tauhid yang tampak sangat teologis ini dengan kehidupan mahasiswa yang sibuk dengan tugas kuliah, organisasi, dan mencari pengalaman?.
Jawabannya justru terletak pada betapa relevannya nilai ini untuk menjawab persoalan mahasiswa hari ini.
Menjaga integritas akademik. Mahasiswa yang bertauhid akan berpikir dua kali sebelum menyontek atau memalsukan data penelitian, karena ia sadar kejujuran adalah bagian dari pertanggungjawaban kepada Allah, bukan sekadar aturan kampus.
Menumbuhkan keberanian bersikap kritis. Mahasiswa yang bertauhid tidak mudah tunduk pada tekanan struktural yang tidak adil, baik dari dosen, birokrasi kampus maupun sistem sosial yang timpang.
Menjadi filter di tengah godaan organisasi. Dunia pergerakan penuh godaan kekuasaan, popularitas, dan kepentingan pragmatis.
Tauhid menjadi kompas yang mengingatkan kader untuk tetap lurus meski berada di tengah pusaran kepentingan.
Baca juga: Sempurnakan administrasi berbasis digital, PC PMII Blitar sosialisasikan web PMII Blitar
Membangun kepekaan sosial yang tulus. Karena nilai Tauhid berimplikasi pada Hablum minannas, kader PMII yang bertauhid akan tergerak membela mereka yang lemah bukan demi citra diri, melainkan sebagai bagian dari ibadah dan tanggung jawab kekhalifahan.
C. Penutup
Penting untuk diingat bahwa NDP I hanyalah pintu gerbang. Setelah memahami Tauhid sebagai fondasi, perjalanan seorang kader PMII masih panjang.
Mulai dari mendalami hubungan antar sesama manusia, relasi dengan alam, hingga bagaimana nilai-nilai ini diterjemahkan ke dalam sikap kritis terhadap persoalan sosial, politik serta kebangsaan.
Namun tanpa fondasi Tauhid yang kokoh di tahap awal ini, seluruh bangunan nilai berikutnya berisiko rapuh.
Sebagai anggota baru, tugas kita bukan hanya menghafal definisi-definisi yang telah dipaparkan, melainkan menjadikan Tauhid sebagai cara hidup cara berpikir, cara bersikap, dan cara mengambil keputusan, bahkan dalam hal-hal kecil sehari-hari.
Sebab pada akhirnya, pergerakan yang sesungguhnya dimulai bukan dari aksi turun ke jalan, melainkan dari keberanian menundukkan diri hanya kepada Allah, dan menolak tunduk pada apa pun selain-Nya.
Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.
- Q.S. Al-An’am: 162
Bahan Diskusi Kelompok
1. Ceritakan satu pengalaman pribadi ketika kamu harus memilih antara bersikap jujur atau mengikuti tekanan kelompok. Apa yang akhirnya kamu putuskan, dan mengapa?
2. Menurutmu, dalam konteks kampus hari ini, bentuk penghambaan kepada selain Allah yang paling sering terjadi itu seperti apa? Berikan contoh konkret.
3. Bagaimana caranya agar semangat Tauhid tidak berhenti sebagai jargon organisasi, melainkan benar-benar terasa dalam aktivitas kaderisasi sehari-hari?. (alex)